Search-form

♦Welcome to My Blogspot. Hope you enjoyed reading my blog♦

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Basketball. Show all posts
Showing posts with label Basketball. Show all posts

Sunday, March 20, 2011

Taklukkan Celtics, Lakers Sabet Gelar Juara NBA Ke-16 (Tahun 2010)


foto 

Kobe Bryant, 31 tahun, kembali menjadi bintang bagi Lakers dengan menyumbangkan poin terbanyak untuk Lakers: 23 poin. Bryant sekaligus mengecap gelar juara kelima NBA bersama Lakers. Bryant sempat membawa Lakers menang tiga kali berturut-turut pada 2000, 2001, dan 2002.

Sementara itu, Ron Artest mengemas 20 poin untuk Lakers, sedangkan Pau Gasol melesakkan 19 poin.

Di kubu Celtics, Paul Pierce melesakkan poin terbanyak dengan 18 poin di susul Kevin Garnett dengan 17 poin, Rajon Rondo dengan 14 poin, dan Ray Allen dengan 13 poin.

Dengan gelar kelima dalam 11 musim tersebut, Lakers kini terpaut satu gelar dari Boston yang sudah mengantongi 17 gelar sepanjang sejarah NBA.

Sedangkan, Pelatih Lakers Phil Jackson meraih gelar ke-11 di NBA selama melatih. Selain bersama Lakers, Jackson mengantongi gelar NBA saat membesut Chicago Bulls.

Alasan Lebron James Bergabung Dengan Miami Heat





Hanya ada dua label untuk pemain dalam olahraga: juara atau gagal. Kemenangan adalah satu-satunya tolak ukur kesuksesan seorang atlit dalam olahraga dan jumlah kejuaraan yang dimenangkan atlit tersebut adalah satu-satunya statistik yang relevan dalam mengukur kemampuan seorang pemain. Baik anda setuju ataupun tidak, memang banyak cara untuk mengukur kehebatan seorang pemain. Namun biarlah kita berasumsi bahwa anda semua setuju akan hal ini. Karena dalam sebuah olahraga, kemenangan sangatlah dihargai. Kita suka seorang pemenang. Kita suka bila tim kita berhasil menang. Dengan berdasarkan pandangan di atas, maka tolak ukur kehebatan seorang pemain basket bisa diukur dari cincin juara yang ia dapatkan.

Dalam proses free agency menuju ke Miami Heat, James mengungkapkan banyak sisi dari kepribadiannya-arogan, tidak sensitif, narsis-namun jangan lupakan juga putus asa. Pada umur 25 tahun, James tentu merasa waktu semakin menipis. James tentu tidak ingin menunggu sampai umur 31 tahun dan sudah tidak berada pada masa keemasannya. James tidak ingin karirnya berakhir tanpa juara, karena ia akan dicap gagal. Lebih baik juara, walaupun itu dengan cara apapun, ketimbang tidak sama sekali. Lebih baik mendapatkan cincin juara NBA bersama Dwyane Wade daripada tidak sama sekali. Keinginan James untuk menjadi juara lebih dari apapun tergambar jelas saat ia mengorbankan uang [ia mengambil jumlah uang lebih sedikit pada kontraknya untuk bermain dengan Bosh dan Wade], statistik, dan [hampir pasti] kehilangan gelar individual-yaitu trophy MVP regular season. Semua pengorbanan ini dilakukan agar James bisa menjadi juara dan LeBron melompat ke dalam kereta tercepat [ehmm...jalan pintas] menuju juara dengan membuat super team bersama Miami.

Jika seorang LeBron James mempunyai misi untuk menang, maka pilihannya untuk pergi ke Miami tidak salah. Namun jika Bron mempunyai misi untuk menjadi pemain terbaik di dunia dan melewati Jordan, seharusnya ia bergabung dengan Bulls, dimana ia akan menjadi superstar yang bintangnya akan bersinar paling terang disana. Bulls pun bisa memenangkan beberapa cincin juara dengan lineup: Boozer-Rose-Deng-James-Noah. Ini adalah starting five yang merata dan menjadi ancaman dari lima posisi.

Bagaimana dengan misi menjadi ikon global di Miami? Tidak seperti yang dikatakan owner Nets, Mikhail Prokhorov, bahwa LeBron tidak akan menjadi ikon global di Miami: LeBron tetap akan jadi ikon global di Miami. Dengan era YouTube, siapapun yang memiliki kamera dan koneksi internet bisa menjadi bintang di seluruh dunia dengan jumlah hits video yang cukup. Apalagi jika televisi menyiarkan pertandingan Miami setiap saat.

Seandainya seorang LeBron James bermain dengan mega bintang lain di Miami Heat dan menjadi juara nanti, tentu saja kita tidak akan mendiskredit pencapaiannya menjadi seorang pemenang. Magic Johnson dulu punya Kareem Abdul-Jabbar. Larry Bird punya rekan-rekan setim yang masuk dalam Hall of Fame. Michael Jordan punya Scottie Pippen. Dalam 30 tahun terakhir, para juara di NBA setidaknya mempunyai dua superstar kaliber hall of fame. Namun James memiliki pengertian yang salah tentang bagaimana cara menuju juara. Berikut adalah letak kesalahan James akan keputusannya untuk pindah ke Miami Heat untuk bergabung bersama Dwyane Wade dan Chris Bosh. Tadinya saya pikir LeBron bakal memilih kesempatan untuk menang (Chicago), kesetiaan (Cleveland), atau menjadi ikon global (New York). Saya tidak sangka LeBron ternyata memilih kata TOLONG (Miami)! LeBron memilih jalan yang paling mudah dan yang paling tidak membuat dirinya stress. Bayangkan sebuah pertandingan basket antara orang-orang yang tidak saling mengenal satu sama lain di lapangan basket dekat rumah anda. Ketika memutuskan untuk membagi tim menjadi dua, sudah tentu kita ingin memisahkan dua pemain terbaik di lapangan tersebut ke dalam tim yang berbeda, jika tidak tentu pertandingan akan berjalan tidak seimbang. Itu sudah hukumnya. Jika dua pemain terbaik tersebut mempunyai harga diri, tentu mereka tidak ingin bermain dalam satu tim, mereka ingin menguji kemampuan satu sama lain. Ada lima pemain terbaik di NBA saat ini LeBron, Wade, Kobe, Howard dan Durant. Jika dua diantara lima pemain tersebut tergabung dalam satu tim karena kebetulan-seperti Shaq dan Kobe atau Michael dan Scottie-itu namanya nasib. Kobe dan Scottie berkembang dari pemain dengan kemampuan di atas rata-rata menjadi 25 pemain terhebat sepanjang masa. Jordan dan Shaq tentunya tidak mengajak pemain hebat untuk bergabung dengan mereka, kebetulan Pippen dan Bryant memang punya motivasi yang kuat untuk menjadi hebat. Namun kasus James berbeda, ia memutuskan untuk bergabung dengan pemain hebat, bahkan kemampuan Wade melebihi Pippen di era keemasannya masing-msaing, dan bukan cuma satu pemain hebat tapi dua! LeBron memutuskan bahwa lebih gampang bergabung bersama Wade ketimbang mengalahkan satu sama lain. Untuk atlit dengan kemampuan seperti James, mencoba mengisi dua pemain terbaik di liga ke timnya dalam sebuah pertandingan basket, adalah sebuah tindakan yang sangat disayangkan. Bayangkan jika Michael Jordan mengajak Karl Malone dan John Stockton untuk bergabung dengan dirinya di tahun 1996-1998. Pernah dengar istilah “if you cant beat them, join them” atau “jump into the bandwagon”? Itulah LeBron. Masalahnya adalah James tidak membangun dinastinya sendiri. Ia mengambil jalan mudah dengan menggandeng Wade, dan Bosh, untuk menang. Orang berpikir bahwa James mencari Robin sebagai partner. Ternyata James adalah Robin dan malah James yang membutuhkan Batman [Wade].

Sangat disayangkan karena pemain dengan talenta seperti James pantas untuk meraih cincin sebanyak MJ, bahkan menembus daftar sepuluh pemain terhebat sepanjang masa. Belum menang satu cincin juara saja,nama LeBron sudah saya taruh di daftar tersebut. James tidak akan bisa mengalahkan Jordan karena LeBron punya dua sidekick yang lebih hebat ketimbang Pippen dan Rodman. Alhasil perjalanan LeBron untuk menjadi pemain terhebat sepanjang masa berakhir saat ia pindah ke Miami Heat. LeBron memiliki nick name the chosen one, percuma saja mengharapkan LeBron akan menjadi pemain yang sesuai dengan julukan tersebut. James sudah kalah satu cincin dibanding Wade. Seandainya Wade bertahan terus di Miami dan memenangkan cincin juara bersama James, gelar ‘the greatest player ever’ tidak akan jatuh ke tangannya. James akan kalah jumlah cincin juara dengan Wade, kecuali James berhasil mengungguli Wade dalam jumlah trophy MVP Finals, bisakah ia melakukannya?

Mungkin yang lebih penting dalam menjadi juara adalah tentang bagaimana proses meraihnya. Perjalanan mulai dari berhasil memenangkan 58 pertandingan di regular season, lalu mengalami sakit hati karena dikalahkan di conference finals, dan baru bisa juara di musim berikutnya. Mungkin hal tersebut akan terasa lebih indah ketimbang menjadi juara dengan mengajak dua dari tujuh pemain terhebat di NBA saat ini. Mungkin ia akan menyadari bahwa menjadi juara di Miami tidak akan sepuas ketika ia berhasil membawa tim yang tidak mungkin menjadi juara tanpa kontribusinya, seperti di Cleveland. Namun apapun itu, jika James menjadi juara kelak, saya rasa kita semua akan memujanya, bersama Dwyane Wade tentunya.

Rivalitas Bulls dan Pistons Era Michael Jordan

      Sikut menyikut, permainan keras menjurus kasar, sampai pemilihan tim untuk olimpiade Barcelona ‘92. Semua hal itu tertuang dalam sebuah rivalitas keras antara dua tim NBA di akhir dekade 80-an. Yup, semua pasti ingat rivalitas antara Detroit Pistons dan Chicago Bulls, terutama pada tahun 1988 sampai 1991. Michael Jordan dan rivalnya-Isaiah Thomas. Pistons meraih dua gelar mereka pada tahun 1989 dan 1990, setelah mengandaskan mimpi Michael Jordan muda bersama Bulls. Mereka berada di satu wilayah, yaitu wilayah Timur. Persaingan mereka menjadi bumbu yang menghiasi salah satu rivalitas yang terjadi di NBA.

Di sepanjang sejarah NBA memang ada beberapa rivalitas klasik yang menarik untuk dicermati, namun tidak ada yang sekeras dan sekasar duel Bulls versus Pistons. Sebelum era tersebut dimulai, ada rivalitas yang terjadi antara LA Lakers dan Boston Celtics; antara Earvin “Magic” Johnson dan Larry Bird. Lakers versus Celtics lebih mengarah ke publisitas, pencapaian gelar pribadi, dan prestasi tim kedua bintang mereka [Magic dan Bird]. Sementara persaingan antara Pistons dan Bulls, benar-benar mendarah daging sampai ke fans kedua klub. Kebencian yang tercipta antar bintang dari kedua klub kerap menimbulkan permainan keras, bahkan cenderung kasar. Siapa yang tidak ingat ulah Dennis Rodman yang mendorong Scottie Pippen secara keras [yang menyebabkan mulut Pippen mengucurkan darah]? Atau penolakan Jordan untuk bermain di Dream Team jika I. Thomas ikut bermain? Yup, semua itu seakan menandakan kebencian di antara kedua tim yang begitu mengakar sampai kepada pemain-pemainnya.

Awal Sebuah Rivalitas

1987-1988

Rivalitas mereka dimulai di musim 1987-1988 pada saat semifinal Playoff wilayah Timur sedang berlangsung. Pistons merupakan tim yang sedang berkembang pesat dan Michael Jordan adalah pemain terbaik saat itu. Jordan mendapat banyak gelar musim itu: MVP All-Star, MVP regular season, dan [satu-satunya] gelar Defensive Player of the Year [miliknya]. Setelah melewati Cleveland Cavaliers di babak pertama dengan skor 3-2, Bulls bertemu Detroit Pistons di babak ke dua.  Detroit Pistons memenangi game pertama dengan keunggulan 11 angka. Lalu dibalas oleh Chicago Bulls yang memenangi game ke dua dengan skor 105-95 [dan hasil itu adalah satu-satunya kemenangan Bulls atas Pistons di seri itu]. Setelah itu, Pistons mengambil alih dua game di Chicago dengan keunggulan 22 point dan 19 point, sebelum menutupnya dengan kemenangan 102-95 di kandang sendiri. Isaiah Thomas sempat tak sadarkan diri akibat terkena sikut Jordan-yang menambah sengit persaingan ini. Pistons maju ke babak Final NBA untuk menantang Lakers [setelah mengalahkan Boston Celtics]. Pistons mengakhiri musim itu dengan kekalahan 3-4 dari Lakers.

Rivalitas yang Memanas

1988-1989

Memasuki musim 1988-1989, persaingan mereka menjadi semakin sengit. Pistons [yang menyelesaikan musim dengan rekor menang kalah 63-19 dan menempati peringkat pertama di regular season] ditantang Chicago Bulls di final wilayah Timur. Bulls secara mengejutkan berhasil mengalahkan Cleveland Cavaliers [pertandingan yang dikenang publik sebagai “the Shot”, yaitu tembakan buzzer beater Jordan melewati Craig Ehlo] dan New York Knicks di babak sebelumnya. Unggul terlebih dahulu dengan skor 2-1 atas Pistons, The Bad Boys memainkan sebuah strategi yang dikenal dengan “Jordan Rules”, yakni sebuah strategi yang menghalalkan segala cara untuk menghentikan Michael Jordan. Ya, segala cara. Mulai dari permainan keras menjurus kasar, termasuk diantaranya adalah upaya membuat Jordan kehilangan keseimbangan, sampai usaha untuk sekedar mencegah Jordan mendapatkan bola. Pada dasarnya, strategi defense Jordan Rules memang dibuat [hanya] untuk menghentikan offense seorang Jordan [meskipun dipakai juga untuk mengalahkan tim Bulls secara keseluruhan, dengan mematikan pilihan pertama offense Bulls]. Jordan pun lebih cepat kehabisan stamina saat melakukan defense, akibat sistem penjagaan semacam ini. Berikut kata Chuck Daly, pelatih Detroit Pistons saat itu, tentang Jordan Rules: “Jika Jordan berhasil menerobos di paint area, kita akan memaksanya untuk keluar, lalu mendouble tim Jordan. Jika dia ada di sisi kiri pertahanan kami, maka kami akan segera mendouble team Jordan. Jika dia berada di sisi kanan, kita juga akan melakukan hal yang sama, sehingga kami memaksa Jordan untuk melakukan turnover atau mempassing bola ke rekannya. Jordan bisa melukai kita dari manapun juga, bahkan dari stand penjualan hot dog yang terletak di luar sekalipun. Kelihatannya strategi ini memang cenderung menjurus kasar, tetapi kita harus melakukan kontak fisik dan bermain keras.” Pistons kembali menang atas Bulls, kali ini dengan skor 4-2 untuk melaju ke final NBA. Di final, Pistons kembali bertemu Lakers dan kali ini mereka yang menjadi juara NBA. Musim ini juga menjadi akhir dari karir Doug Collins sebagai pelatih Chicago Bulls [Collins digantikan dengan Phil Jackson].


1989-1990

Permulaan dari sebuah era baru di bawah kepelatihan Phil Jackson, Bulls mencoba mencari cara untuk mengatasi Jordan Rules. Bulls meraih rekor menang-kalah terbaik ke dua musim itu [55-27], dan Pistons memiliki rekor menang-kalah terbaik ke tiga [satu peringkat di bawah Bulls]. Seakan sudah menjadi takdir, Bulls kembali bertemu Detroit Pistons di final wilayah Timur untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Kali ini Bulls tampak semakin siap dan semakin dekat dengan gelar juara. Tetapi Pistons tetap adalah ’The Bad Boys’ Pistons, terutama pada musim itu. Walau harus melayani Bulls dalam seri yang sangat ketat [sampai ke game tujuh], akhirnya Pistons kembali melaju ke final NBA pada musim 1989-1990 dan mempertahankan gelar juara NBA mereka [setelah mengalahkan Portland di final dengan skor 4-1]. Meskipun demikian, ada sebuah pertanyaan yang sampai sekarang masih menggantung: jika Pippen dalam kondisi fit [saat itu Pippen mengalami sakit kepala yang dikabarkan menjadi penyebab Jordan bermain buruk. Pippen hanya menghasilkan dua points], apakah hasilnya akan tetap sama?


1990-1991

Jordan sudah dikenal sebagai pemain berbadan cukup besar saat itu, namun dengan melatih fisik dan post-up gamenya, Jordan memasuki musim itu dengan kepercayaan diri tinggi. Memasuki tahun ke tujuhnya, Jordan menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun miliknya. “Memenangkan gelar [juara NBA] sangat penting bagiku, bagi rekan setim, dan juga warga Chicago. Itu adalah sebuah kekosongan yang ingin aku isi. Itulah mengapa saya menginginkannya, dan saya akan melakukannya tahun ini.” ucapan ini dikeluarkan oleh Jordan untuk menggambarkan seberapa besar keinginannya meraih gelar juara pertamanya. Yes, Jordan adalah bintang besar, tapi masih tetap minus gelar juara. Bulls harus terlebih dahulu melewati hadangan Detroit Pistons di Playoff wilayah Timur.

Pada bulan April tahun 1991 [ketika Pistons bertemu Bulls] Pippen menjabat tangan John Salley [pemain Pistons saat itu] seraya mengatakan, “Sampai bertemu di final wilayah Timur, segalanya akan berbeda musim ini.”  Bulls bermain luar biasa sepanjang musim dengan menorehkan rekor menang kalah 61-21 di regular season, unggul 11 game atas Pistons. Raihan yang memberikan gelar MVP kepada Jordan musim itu, setelah sebelumnya sempat dicap sebagai pemain yang egois. Adalah Bulls versus Pistons yang ke empat kalinya [empat musim berturut-turut dan ketiga kalinya mereka bertemu di final wilayah Timur]. Tujuan dari Pistons adalah meraih tiga gelar berturut-turut, sedangkan Bulls berusaha meraih gelar yang pertama. Pistons tetap percaya diri menghadapi Bulls memasuki final wilayah kali ini. Pistons telah mengalahkan Bulls selama tiga tahun terakhir, mengapa mereka tidak bisa mengalahkannya tahun ini? Itulah yang ada dibenak pemain Pistons. “Sepanjang musim mereka [Bulls] berbicara tentang bagaimana mengalahkan kami. Sekarang kami disini, mari kita lakukan.” ujar Isaiah Thomas mengenai final wilayah Timur tahun 1991.Pistons memiliki dua defender terbaik di NBA musim itu: Joe Dumars dan Dennis Rodman. Menjelang final wilayah Timur, Rodman menegaskan bahwa ia akan mematikan Pippen. “Tidak ada gunanya berusaha menghentikan Jordan, tidak ada yang bisa menghentikan dia. Tetapi jika saya dapat menghentikan Pippen maka kita akan punya kesempatan.” ujar Rodman.

Tidak seperti pada tiga pertemuan sebelumnya, kali ini Bulls memiliki banyak keuntungan:

Home Court Advantage : Dengan jumlah menang-kalah [di regular season] yang lebih baik dari Pistons,  Bulls memiliki jatah empat kali bermain di kandang [sesuatu yang tidak pernah mereka dapatkan tiga musim sebelumnya].
Kebugaran: Bulls memiliki waktu istirahat lebih banyak dari Pistons [yang butuh enam game untuk menghentikan Celtics, sebelum bertemu Bulls di Playoff tahun itu]. Untuk menambah beban Pistons, hampir semua pemainnya mengalami cedera. Bahkan bintang utama mereka, Isaiah Thomas, tidak bermain sebagai starter di tiga game terakhir melawan Celtics. Begitu juga dengan duet Joe Dumars dan Vinnie Johnson, yang juga mengalami cedera. Pemain Bulls lebih muda dan energik melawan pemain Pistons yang mulai menua.
Lebih Matang: Bulls lebih matang pada musim 1991 daripada musim sebelumnya. Kali ini bukan hanya Jordan yang tampil sensasional, Pippen dan Horace Grant juga tampil luar biasa sepanjang musim ini. Belum lagi jika ditambah tenaga dari bangku cadangan seperti: B.J Armstrong, Will Perdue, dan Craig Hodges yang memberikan kontribusi konsisten tahun ini. Meskipun demikian, Pistons masih memiliki kebanggaan dan hasrat untuk kembali menjadi juara [sesuatu yang tampak nyata pada game ke enam melawan Boston Celtics].
Namun kali ini Bulls memang lebih siap. Memulai seri dengan mengalahkan Pistons 94-83, lalu dilanjutkan dengan kemenangan 105-97 di game ke dua. Bulls datang ke kandang Pistons dengan kepercayaan diri penuh. Unggul 2-0 dengan format best of seven games series, mereka berhasil mengalahkan Pistons di game ke tiga dengan skor 113-107. Hal itu seakan menegaskan lahirnya sebuah era baru. Tidak ada satu tim pun dalam sejarah NBA yang mampu memenangkan seri setelah tertinggal 0-3. Dan sejarah pun terulang dengan sendirinya. Bulls memenangi game ke empat dengan skor akhir 115-94, sekaligus menyapu bersih Pistons 4-0. Hari itu akan dikenang oleh banyak orang, karena pada saat pertandingan menyisakan waktu 7.9 detik, para pemain Pistons meninggalkan lapangan pertandingan [dipimpin oleh kapten mereka-Isaiah Thomas]. Tidak ada satupun pemain Pistons memberi selamat [menjabat tangan para pemain tim lawan yang menang] kepada pemain-pemain Bulls, kecuali John Salley.

Jordan Rules terbukti sangat efektif dalam tiga pertemuan pertama Pistons-Bulls dan merupakan alat utama untuk menghentikan Jordan [dalam rivalitas Bulls versus Pistons]. Pistons memenangi tiga seri pertama mereka [4-1, 4-2, dan 4-3], sebelum Bulls akhirnya menemukan cara untuk mengatasi hal ini [The Jordan Rules akhirnya berhasil dipatahkan dengan strategi Triangle Offense ala Phil Jackson. Strategi yang lebih menekankan kepada kerja sama tim dibanding mengandalkan Jordan seorang diri di offense], dan mengalahkan Pistons dengan 4-0. Walaupun banyak yang meragukan kemenangan Bulls karena Pistons datang ke final wilayah Timur dengan keadaan cedera dan kelelahan [mereka mulai menua saat itu dan pemain bintang mereka banyak yang cedera], saat Bulls mulai bermain secara tim maka strategi Jordan Rules seakan tidak efektif lagi untuk menghentikan Jordan. Kali ini Pistons harus menghentikan keseluruhan tim Bulls. Mungkin Pistons harus menciptakan jurus baru lagi bernama ”The Bulls Rules”. Mengalahkan Pistons seakan memang kebutuhan Chicago Bulls untuk mengukuhkan diri sebagai tim terbaik di NBA saat itu. Mereka melaju ke final NBA 1990-1991 dan mengalahkan Lakers dengan 4-1 [yang dipimpin oleh Magic Johnson] untuk meraih gelar pertama mereka dari periode tiga gelar juara berturut-turut yang pertama. Sementara Pistons [setelah dikalahkan] mengalami keterpurukan. Mereka tidak pernah berhasil memenangkan seri lagi di babak Playoffs sampai tahun 2002. Bulls sendiri berhasil meraih tiga gelar juara berturut-turut dua kali dengan strategi triangle offense. Meskipun demikian dalam rivalitas mereka secara keseluruhan di era tersebut, Pistons tidak kalah sukses dengan berhasil memenangkan tiga dari empat seri melawan Bulls dan dua gelar juara NBA berturut-turut [dengan menghentikan Bulls]. Tentu saja memakai strategi Jordan Rules.


RIVALITAS INDIVIDU PISTONS-BULLS

Seperti kita ketahui bersama, rivalitas kedua tim tidak berhenti sampai di tim saja, tetapi juga individu-individu yang terlibat didalamnya. Jordan dan Thomas adalah aktor utama dalam rivalitas ini. Semua dimulai pada All-Star tahun 1985. Sebagai bintang muda, Jordan tampil sebagai starter di tim Timur bersama Thomas. All-Star tahun itu akan dikenang sebagai All-Star terburuk Jordan. Sepanjang pertandingan dia hanya mendapat sembilan tembakan, jumlah FG terendah untuk pemain inti tim All-Star [sampai pada tahun itu]. Hal ini kemudian menimbulkan spekulasi dari media bahwa para pemain bintang mendiskreditkan Jordan dalam offense mereka dengan cara tidak mengoper bola kepada Jordan. Lantas, media mengasosiasikan hal ini sebagai bentuk kecemburuan bintang-bintang tersebut terhadap publisitas yang didapat oleh Jordan. Media juga menuding Thomas sebagai alasan terjadinya semua ini. Namun hal ini disanggah Thomas. Ia beralasan bahwa ia tidak mungkin melakukan hal tersebut karena ada pemain yang lebih senior di tim itu seperti: Larry Bird, Moses Malone, dan Julius Erving.

Hal menarik lainnya adalah absennya Thomas dari the Dream Team [yang saat itu dilatih oleh Chuck Daly, yang juga melatih Thomas]. Rumor menyebutkan bahwa absennya Thomas dari Dream Team adalah karena Jordan tidak menginginkan Thomas sebagai rekan setim-nya. Tentu saja hal ini dipicu dari insiden All-Star game tahun 1985 yang lalu dan juga persaingan mereka sepanjang tahun 1988-1991. Thomas mengatakan bahwa tidak ada keraguan kalau MJ [nickname dari Jordan] adalah pemain terbaik dalam sejarah NBA. Jawaban yang sangat bijak ini seakan diucapkan Thomas untuk tidak memperpanjang rivalitas yang diciptakan media diantara keduanya.

Di luar itu, masih ada rivalitas antara Pippen dan Rodman. Walaupun tidak seperti rivalitas Jordan dan Thomas, rivalitas mereka cukup kental, terutama di game ke empat musim 1990-1991. Rodman sedang memiliki masalah dengan istrinya saat itu. Saat Rodman melewati Pippen, Pippen pun bertanya, “Bagaimana istrimu?” .Komentar tersebut dirumorkan memicu amarah dari Rodman. Yang kita ketahui terjadi kemudian adalah kepala Pippen membentur Plexyglass dari backboard dan mengakibatkan Pippen terjatuh di sisi lapangan. Pada akhirnya kedua pemain melupakan insiden itu, terutama saat Rodman bergabung bersama Bulls. Trio Jordan, Pippen, dan Rodman meraih tiga gelar juara berturut-turut yang ke dua kalinya dan juga mencatat rekor kemenangan sensasional [72-10] di regular season musim 1995-1996.

Rockets Ukir Sejarah



      Masih segar dalam ingatan kita bagaimana musim lalu Houston Rockets telah menarik perhatian semua orang dengan memenangkan 22 pertandingan di NBA berturut-turut. Sebuah tim di NBA tidak pernah sehebat itu dalam 36 tahun terakhir. Apalagi hal tersebut dicapai di era modern dimana defense setiap tim semakin ketat dan peraturan sudah diubah sedemikian rupa sehingga tidak semudah itu untuk meraih kemenangan. Ini merupakan kemenangan berturut-turut [atau disebut dengan istilah ’winning streak’] terpanjang kedua, sepanjang sejarah NBA. 48 hari lamanya mereka tidak terkalahkan. Mereka sempat menang 12 kali bersama Yao, lalu mereka terpukul dengan cederanya Yao Ming yang memaksanya untuk beristirahat selama 4 bulan. Semua orang bilang peluang mereka untuk berbicara banyak di playoff musnah sudah. Tapi mereka malah membalas kritikan tersebut dengan terus menang di 10 game berikutnya tanpa Yao.

Angka jumlah kemenangan tersebut sulit dicerna, karena di atas kertas tim ini bukanlah tim yang mampu meraih kemenangan yang banyak tanpa Yao, apalagi menang berturut-turut. Apakah mereka menang karena faktor keberuntungan? Ataukah karena jadwal pertandingan yang enteng? Apakah mereka adalah sebuah tim dengan supporting cast yang bermain di luar prediksi? Jika anda percaya salah satu dari teori dibalik 22 kemenangan beruntun Rockets diatas, maka anda salah besar. Pada kenyataannya tim ini melakukan hal-hal yang nyata di lapangan yang menghasilkan kemenangan untuk Rockets. Memang untuk mendapat winning streak sepanjang Rockets, tim membutuhkan luck (waktu Rockets mendapatkan kemenangan yang ke-delapan, mereka membutuhkan tembakan buzzer beater dari Steve Novak, pemain yang jarang dipakai diturunkan sebagai peman utama, dengan tembakan tiga angkanya untuk memenangkan game tersebut), namun tim mana yang tidak?



Houston adalah tim defensive terbaik di liga musim lalu. Houston ada di ranking empat dalam jumlah point kemasukan, nomor dua di defensive field goal percentage, dan nomor satu di rebounding percentage.Statistik tersebut berada di jajaran yang sama dengan tim-tim elite NBA seperti Boston, Detroit dan San Antonio. Rockets menjadi tim defensive terbaik di NBA karena mereka menantang setiap tembakan yang dilancarkan musuh. Mereka tidak pernah menyerah ketika terkenascreen dari pemain lawan saat melakukan defense. Mereka men-traplawan dan melakukan rotasi dalam defense lebih baik dari tim lainnya. Mereka saling membantu temannya apabila daerah pertahanan mereka diterobos lawan. Secara singkat, mereka adalah tim yang secara terus-terusan mempertahankan level permainan defense mereka dengan sangat kompetitif secara 48 menit. Mereka menahan musuh di bawah 100 points sebanyak 18 kali selama streak mereka berlangsung.



Jangkar dari defense ini tanpa perlu diragukan lagi adalah Shane Battier. Forward dengan tinggi 6-foot-8 ini memang tidak secepat Bruce Bowen dari San Antonio maupun memiliki permainan yang keras seperti Ron Artest. Tapi Battier tidak akan berhenti dalam menjaga musuh dan ia sangat pintar. Ia selalu mendapat porsi dari pelatih untuk menjaga pemain terbaik dari tim lawan. Sebelum bertanding ia selalu membaca laporan dari tim scouting Rockets tentang kebiasaan-kebiasaan dari pemain yang akan dijaganya. Kombinasi dari kemampuan dan kerja keras yang dimilikinya, membuat pemain lawan sulit untuk mencetak angka jika dijaga oleh Shane. Hal yang luar biasa adalah Battier mampu menunaikan misinya tanpa bantuan double team; Adelman sering menurunkan small lineup [1 pemain center dan 4 pemain dengan tinggi badan yang biasanya lebih kecil dari pemain lawan pada umumnya yaitu: tiga pemain perimeter dan Power Forward yang tergolong kuat dan cepat namun lebih pendek dari PF lawan], agar dapat memainkan Bobby Jackson di babak kedua, artinya tidak ada Dikembe Mutombo ataupun Chuck Hayes yang berfungsi sebagaijantung pertahanan terakhir Rockets jika Battier gagal menjaga lawannya di perimeter.





Masih tidak percaya bahwa mereka adalah tim yang benar-benar bagus? Masih bertanya-tanya tentang jadwal tanding mereka? Memang mereka tidak menghadapi tim yang elite dalam jumlah yang banyak. Tapi mereka telah mengalahkan Cleveland (2 kali), New Orleans (2 kali), Dallas di kandangnya dan Denver Nuggets. Selama streak mereka, Rockets hanya bertemu dengan 6 tim yang tidak mempunyai kesempatan untuk masuk ke playoff: Indiana, Milwaukee, Minnesota, Miami, Memphis, dan Charlotte. Kalau memang jadwal mereka gampang, mengapa hanya ada dua tim di NBA yg mampu melakukannya?

TANGGAL
LAWAN
HASIL
W-L
HI POINTS
HI REBOUNDS
HI ASSISTS
Sun, Jan 27
Utah
L 89-97
24-20
T. McGrady 21
C. Landry 8
T. McGrady 9
Tue, Jan 29
Golden State
W 111-107
25-20
Y. Ming 36
Y. Ming 19
R. Alston 12
Fri, Feb 1
@ Indiana
W 106-103
26-20
C. Landry 22
Y. Ming 12
T. McGrady 9
Sat, Feb 2
@ Milwaukee
W 91-83
27-20
T. McGrady 33
Y. Ming 12
R. Alston 9
Mon, Feb 4
@ Minnesota
W 92-86
28-20
T. McGrady 26
L. Scola 8
R. Alston 8
Thu, Feb 7
Cleveland
W 92-77
29-20
Y. Ming 22
Y. Ming 12
R. Alston 9
Sat, Feb 9
Atlanta
W 108-89
30-20
Y. Ming 28
Y. Ming 9
T. McGrady 8
Mon, Feb 11
Portland
W 95-83
31-20
Y. Ming 25
Y. Ming 7
R. Alston 7
Wed, Feb 13
Sacramento
W 89-87
32-20
Y. Ming 25
Y. Ming 14
R. Alston 7
Tue, Feb 19
@ Cleveland
W 93-85
33-20
R. Alston 22
Y. Ming 14
T. McGrady 8
Thu, Feb 21
Miami
W 112-100
34-20
T. McGrady 23
L. Scola 10
R. Alston 11
Fri, Feb 22
@ New Orleans
W 100-80
35-20
T. McGrady 34
Y. Ming 14
R. Alston 11
Sun, Feb 24
Chicago
W 110-97
36-20
T. McGrady 24
S. Battier 10
T. McGrady 8
Tue, Feb 26
Washington
W 94-69
37-20
L. Head 18
S. Battier 9
B. Jackson 7
Fri, Feb 29
Memphis
W 116-95
38-20
T. McGrady 25
D. Mutombo 13
R. Alston 8
Sun, Mar 2
Denver
W 103-89
39-20
T. McGrady 22
L. Scola 14
R. Alston 8
Wed, Mar 5
Indiana
W 117-99
40-20
T. McGrady 25
C. Hayes 11
R. Alston 7
Thu, Mar 6
@ Dallas
W 113-98
41-20
T. McGrady 31
L. Scola 9
T. McGrady 9
Sat, Mar 8
New Orleans
W 106-96
42-20
T. McGrady 41
C. Hayes 9
T. McGrady 9
Mon, Mar 10
New Jersey
W 91-73
43-20
T. McGrady 19
C. Hayes 10
T. McGrady 4
Wed, Mar 12
@ Atlanta
W 83-75
44-20
T. McGrady 28
L. Scola 12
R. Alston 7
Fri, Mar 14
Charlotte
W 89-80
45-20
T. McGrady 30
S. Battier 9
T. McGrady 4
Sun, Mar 16
LA Lakers
W 104-92
45-20
R. Alston 31



Pertanyaan berikut, bagaimana mereka mencetak angka dengan susunan pemain yang mereka miliki? Pertama-tama, mereka mempunyai senjata menyerang yang hebat dalam diri McGrady, yang memiliki talenta menyerang yang serupa dengan dewa-dewa pencetak angka. The Rockets menggunakannya sebagai seorang playmaker utama, dimana Tmac memiliki peran untuk mencetak angka dan menciptakan peluang bagi para pemain pendukung lainnya agar Rockets mempunyai peluang yang positif untuk ditolak. Saya bahkan memberi respek saya pada McGrady karena walaupun beban serangan terpusat pada dirinya karena absennya Yao, dia tidak pernah merasa untuk perlu selalu mencetak angka yang banyak agar timnya menang, Dia mempercayai rekan-rekan satu timnya dan mereka membalas kepercayaan Tmac dengan baik. Rafer Alston membuat keputusan yang tepat, menjaga bola dengan baik, bermain defense dengan solid, dan membuat tembakan-tembakan yang diperlukan untuk mengunci kemenangan Rockets. Ia memiliki catatan statistik terbaik sepanjang karirnya di hampir semua kategori musim lalu. Carl Landry memberi Rockets gabungan dari energi, skill, antusias, dan mendapatkan kepercayaan dari pelatih dan rekan setimnya. Chuck Hayes menjaga pemain-pemain besar lawan dan mencoba untuk mendapatkan easy baskets dalam sistem Adelman. Mutombo bermain baik di luar dugaan semua orang seolah-olah ia habis meminum air suci yang membuatnya menjadi muda lagi,. Ia membuat Rockets menjadi defensive team yang tidak gampang dikalahkan. Luther Head menyumbang angka sebagai pemain cadangan dan membuat passing-passing yang tepat kepada temannya sehingga bola mengalir. Bahkan Mike Harris, yang sempat terdepak dari skuad Rockets di awal musim, juga menjadi bagian manis dari kemenangan berturut-turut Rockets. Tidak ada masalah siapa yang mencetak angka di sistem Adelman. Dengan cara mereka bermain defense, Rockets hanya butuh untuk menskor 90 points setiap malam.

Namun buat Rockets, yang paling penting selama winning streak ini bukanlah dicatatnya rekor mereka dalam buku sejarah NBA, tapi Rockets sempat menaikkan moral mereka secara luar biasa dengan menaiki klasemen di wilayah Barat sebanyak 9 posisi [dari peringkat 10 menuju peringkat satu]. ”Tidaklah penting bagaimana kita memulai sesuatu, yang penting adalah bagaimana kita mengakhirinya.” Sebuah kutipan bijak yang perlu ditiru oleh Rockets, karena tim-tim yang memiliki winning streak yang luar biasa ini semuanya memenangkanchampionship. Tim Lakers tahun ‘71-72 menang 33 kali berturut-turut, Bucks ’70-71 menang 20 kali beruntun, The Lakers tahun ’99-00 dengan 19 kemenangan beruntun. Ketiga tim yang saya sebutkan sebelumnya memiliki kesamaan, yaitu mereka memiliki winning streak dengan jumlah di atas 18 kali dan semuanya menutup musim manis mereka dengan menjadi juara NBA. Nah bagaimana Rockets memutuskan untuk mengakhiri musim 2007-2008 yang lalu? Semua itu kembali lagi kepada bagaimana Tracy McGrady dan kawan-kawan memutuskan untuk menulis buku sejarah dengan akhir yang indah.

Catatan: Seperti yang kita tahu Rockets berhasil masuk playoffs. Lalu Rockets harus kalah di ronde 1 playoffs musim lalu di tangan musuh bebuyutan mereka selama dua tahun berturut-turut, yaitu Utah Jazz. Rockets malah memperpanjang streak mereka yang lain, yakni streak TMac dan Yao tidak berhasil lolos dari ronde 1 playoffs.
All-Time NBA Win Streaks
Wins
Team
Season
33
Lakers
1971-72
22
Rockets
2007-08
20
Bucks
1970-71
19
Lakers
1999-2000
18
Bulls
1995-96
18
Celtics
1981-82
18
Knicks
1969-70
17
Suns
2006-07
17
Spurs
1995-96
17
Celtics
1960-61
17
Capitols
1946-47
17
Mavericks
2005-06
16
Lakers
1999-2000
16
Blazers
1990-91
16
Lakers
1990-91
16
Bucks
1970-71
16
Celtics
1964-65

Sunday, February 27, 2011

10 Pemain Basket NBA Terpendek

Ketika kita berfikir tentang pemain basket NBA, kita pasti akan langsung tertuju pada sosok tinggi besar dan bisa menciptakan Dunk yang hebat, nyatanya tidak semua pemain basket NBA adalah pemain yang mempunyai tinggi di atas 180 cm, Ternyata ada juga pemain basket NBA yang tingginya kurang dari 170 cm, tapi walaupun begitu, mereka tetaplah bisa menciptakan dunk spektakuler lho. Berikut adalah daftar 10 pemain basket NBA terpendek hingga sepanjang masa :

10. Terrell Brandon (179 cm)

 Terrel Brandion adalah pemain Cleveland cavaliers di era tahun 90 an, walaupun tingginya tak samapi 180 cm, tapi ia tetap bisa terpilih sebagai pemain All Star di tahun 1996 dan 1997. Ia bahkan mendapatkan predikat The best point Guard di tahun 1997. 

9. Damon “Mighty Mouse” Stoudamire (178 cm)
 ia adalah pemain legendaris Toronto Raptors, ia memulai karirnya di tahun 1995 dan langsung mendapat anugrah NBA Rockie of the Year di tahun 1996. penampilanya yang gemilang dengan mencetak rata-rata 19 pont per game membuatnya menjadi salah satu pemain mini terhandal.

8. Avery “Little General” Johnson (178 cm)
 Dia adalah pemain Denver Nuggets, Houston Rockets, Golden State Warriors, dan Dallas Mavericks. Ia paling dikenal untuk musim nya dengan San Antonio Spurs. Ia dikenal atas bantuannya dalam memenangkan NBA Championship 1999 melawan New York Knicks setelah mencetak tembakan terakhir di Game 5.

7. Michael Adams (178 cm)
Di kelas Rockie Sacramento King, ia hanya dapat mencetak rata-rata 2,2 point per game,tapi begitu terjun ke NBA pro di Denver Nuggets,ia berhasil mencetak rata-rata 26,5 poin dan 10,5 assist per game.


6. Calvin Murphy (176 cm)
 Calvin Murphy adalah seorang penjaga untuk Houston Rockets selama 1970-1983. meskipun dengan tinggi badanya yang hanya 176 cm, ia berhasil mencetak 1.022 poin sepanjang 17.949 sepanjang kariernya.Pada tahun 1971 ia bagian dari NBA All-Rookie Team, dan pada tahun 1979 ia berada di NBA All-Star Team.

5. Nate Robinson (176 cm)
 Nate Robinson bermain untuk New York Knicks.dia bermain di NBA Draft 2005 21. Phoenix Suns mengangkatnya tapi ia dijual ke New York Knicks. Selama 2006 All-Star Weekend, Robinson memenangkan Sprite Rising Stars Slam Dunk Contest. Yang terbaik adalah ketika ia dunk melompati Spud Webb dan mendapat nilai sempurna 50.


4.Wataru “Kilo Wat” Misaka (171 cm)

Wataru Misaka adalah salah satu dari sedikit pemain terkenal NBA Asia. Meskipun ia sekarang sudah pensiun, ia juga dikenal sebagai pemain Asia pertama dan sebagai pemain non-Kaukasia pertama yang menjadi bagian dari NBA Wataru memiliki karir yang sangat singkat (1947-1948), dan ia hanya mampu bermain tiga game sebelum dipotong dari tim.
3. Anthony “Spud” Webb (170 cm)

Anthony Webb berdiri sebagai pemain terpendek ketiga untuk menjadi bagian dari NBA. Setelah menghadiri Midland College dan North Carolina State University, ia draft ronde 4 memilih bermain untuk Detroit Pistons di tahun 1985 Draft. Pada tahun 1986, Webb mengikuti NBA Slam Dunk Contest,  meskipun terpendek tetapi ia memiliki lompatan tertinggi dari 42 inci dan ia pun memenangkan kontes.
2. Earl Boykins (165 cm)
Earl Boykins adalah pemain terkecil kedua yang pernah berada di NBA. Meskipun kedua terkecil, ia berdiri sebagai pemain yang paling ringan. Ia terkenal karena ia mencetak teknik setelah ia mampu mencetak 32 poin dalam permainan pada tanggal 11 November 2004. Dia juga bermain untuk LA Clippers, Golden State Warriors, Milwaukee Bucks, Charlotte Bobcats, dan banyak lainnya.

1. Tyrone “Muggsy” Bogues (160 cm)
 Lahir dan dibesarkan di Baltimore, MD, Tyrone Bogues adalah orang terpendek yang pernah bermain di NBA. Meskipun hanya 5’3 “, dia menggunakan tinggi badannya sebagai kelebihan dengan menjadi pemain yang sering menerobos pemain lawan yang berbadan tinggi, ia mampu bermain untuk Hornets selama 10 tahun dan menjadi salah satu pemain tim yang paling populer. Dia benar-benar dilihat sebagai lawan yang tangguh dan mini.








Which of your Favorite football team in Europe?

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More